SELAMAT DATANG IKHWAN / AKHWAT PENGUNJUNG BLOG DAKWAH SALAFY. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT DAN ANDA MENDAPATKAN APA YANG ANDA PERLUKAN
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

Peristiwa Shubuh

Sholat Subuh di Masjid
Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
ditengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,
dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,
berjalan menuju masjid.


Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.
Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,
berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.
Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab “Saya melihat anda jatuh 2 kali
di perjalanan menuju masjid,
jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.’
Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid.

Saat sampai di masjid, pria pertama bertanya kepada pria yang
membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.
Pria kedua menolak.
Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,
lagi, jawabannya sama.
Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.
Pria kedua menjawab

Aku adalah Setan (devil/ evil)

Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua.
Setan kemudian menjelaskan,
‘Saya melihat kamu berjalan ke masjid,
dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah,
membersihkan badan dan kembali ke masjid,
Allah memaafkan semua dosa2mu.
Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan
bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,
kamu tetap memutuskan kembali masjid.

Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu.
Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya,
jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu,
jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..’

Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.
Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan
dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu untuk melaksanakan niat baik tersebut .

Wallahu a’lam bishowab


GADIS KECIL YANG SHOLEHA

Ada kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak buruk pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:

Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nashrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: “Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”

Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: “Mama aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: “Sakit ringan di kakiku.” Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: “Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata “Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah.” Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: “Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku.”

Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.

Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: “Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku.”

Kami (aku, suami dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang muslimah?” Dia menjawab: “Tidak.”

Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya,karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan memarikannya akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orangtuanya.

PAda suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna. ” Temanku tersebut berkata: “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan, Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati.”

Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!

Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan disisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mangabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.

Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum.

Dia berkata: “Ummi kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.”

Kukatakan: “(Mimpi) yang baik Insya Allah. “

Dia berkata: “Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi.”

Akupun bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut.”

Dia menjawab: “Aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku.

Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.

Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring diatas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: “Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: “Aku ingin mencium pipimu yang kedua .” Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: “Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah.”

Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah.” Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” Dan kelurlah rohnya.

Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kesturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, kelurgaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillah rabbil ‘aalamin.


Bunda, Jangan Marah lagi ya?

Saya mungkin termasuk orang yang mempunyai kadar kesabaran yang tipis sehingga rasa marah gampang sekali tersalut. Sedikit saja yang tidak berkenan di hati saya sering sekali menjadi pemicu naiknya darah sampai ke ubun-ubun. Tapi walau semarah apapun saya berusaha untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau sampai memukul anak saya yang tingkahnya benar-benar sangat menguji tingkat kesabaran saya.


Caca putri saya sebenarnya bukan anak yang nakal. Menurut saya dia adalah anak yang unik dan memiliki energi yang tidak pernah habis. Dia suka sekali melakukan sesuatu yang terkadang menurut saya terlalu berlebihan misalnya dia suka bermain dengan semua mainan yang dia miliki hingga ruang tengah rumah kami penuh dengan mainannya yang bermacam-macam.

Dia juga sangat suka menyimpan benda tak terpakai bekas ayahnya bekerja seperi bekas suntikan infus tinta printer atau kotak-kotak wadah tinta infus. Semua kotak kemudian diisinya dengan pernak-pernik, bros, pensil warna, gunting kuku, minyak kayu putih dan barang-barang lainnya bahkan pernah sampai jilbab dan pakaian dalamnya dia masukkan ke dalam kotak bekas tersebut. Ketika saya memerlukan benda tersebut saya harus gerilya mencari dan membongkar kotak tersebut satu persatu.

Di situlah saya merasa tingkat kesabaran saya di uji. Biasanya saya akan melakukan pencarian dengan mulut yang tidak berhenti berpetuah padanya. Alhamdulillah Caca selalu mendengarkan dan kalau saya sudah mengatakan lain kali nggak boleh lagi ya? Dia akan menjawab iya. Tapi itu hanya jawabannya saja karena setelah itu pasti akan kejadian lagi kalau dia mendapatkan kotak yang baru.

Namun setelah tiga minggu sekolah di SDIT Nurul Ilmi Tenggarong, terlihat perubahan sikap Caca, dia jarang bermain atau menghamburkan mainannya. Kalaupun bermain yang dia lakukan adalah mewarnai atau menggambar sesuatu di bukunya. Cuma sekarang dia agak susah diajak istirahat siang padahal jam belajar di sekolahnya cukup panjang untuk ukuran anak sd setingkat kelas 1. Kalau dulu saya kurang sabar ketika mengingatkan dia untuk tidak menghamburkan mainannya. Nah kalau sekarang kesabaran saya diuji saat mengajaknya tidur siang. Maksud saya adalah supaya capeknya bisa hilang dan bisa belajar dengan segar saat malam hari.. ehh.. caca malah ngeyel dan bilang nggak mau. Kejadian seperti ini terulang sampai beberapa hari dan membuat suara saya mulai agak meninggi dan terdengar kencang.

“Bun, Laa taghdhab fa lakal jannah, “janganlah kamu marah maka bagimu surga” Caca berkata pada saya suatu hari. Dia mengucapkan hadist yang sudah dipelajarinya di sekolah.

Subhanallah, saya yang awalnya mau meneruskan ucapan dengan bermacam-macam petuah yang mungkin membosankan baginya jadi berhenti sejenak dan saya tatap wajahnya. Caca membalas tatapan saya dengan wajah khasnya sambil mengangkat alis dan mengangguk. Dia kemudian tersenyum.

“Bunda, jangan marah lagi ya?” katanya.

Saya tersenyum dan mengalah.

“Iya deh, ntar Bunda nggak akan marah-marah lagi kecuali….” saya menggantung kalimat saya.

“Kalau Caca nakal.” Caca meneruskan kalimat saya.

“Kalau begitu sekarang waktunya…. ” saya kembali tidak meneruskan kalimat saya.

Caca tersenyum dan berkata, ” tidur.”

“Tapi sama ayah juga ya, ” lanjutnya lagi.

Tanpa menunggu persetujuan saya dia langsung memanggil ayahnya yang sedang asyik bekerja di depan komputer.

Perubahan sikap caca membuat saya berpikir untuk merubah cara saya menghadapi dan membimbingnya. Saya tahu sikap yang keras dan memarahinya tidak menjadi solusi yang baik. Yang harus saya pelajari lebih banyak adalah bagaimana menjadi lebih sabar dan bersikap lemah lembut dalam mengingatkannya.

“Innallaaha yuhibbur rifqa fil amri kullih”

Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam semua urusan. (HR Jama’ah)

Terima kasih ya Nak sudah mengingatkan Bunda. Semoga caca menjadi anak yang sholehah, penyabar dan juga pintar, amin…

(sumber:eramuslim. com)

“Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu” [ QS. Al Baqarah : 45 ]


JODOH RAHASIA ALLAH

“Apakah kamu percaya jodoh, Fahri?” tanya Maria pada Fahri.

Fahri menjawab dengan bijak, “Ya, setiap orang punya …”
“…Jodohnya masing-masing” sambung Maria.”

Aku tertegun mendengar cuplikan dialog dalam filmAyat Ayat Cinta yang sedang ku tonton. Ya, setiap orang punya jodohnya masing-masing. Jodoh… Aku menarik nafas dalam-dalam setiap kali memikirkan tentang jodoh. Kapankah aku betemu dengan jodohku? 40 tahun bukanlah usia yang muda untuk menikah. Aku sudah bosan mendengar pertanyaan kapan aku akan menikah. Apakah bulan Mei? Meibi yes, meibi no.

Jodohku…seperti apakah dia? Sedikitpun aku tak dapat mengira-ngira bayangannya. Apakah dia tampan? Apakah dia sholeh seperti yang aku idamkan? Yang hanya dapat aku lakukan adalah terus memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang baik di mata Allah, karena Allah menjanjikan laki-laki yang untuk wanita yang baik pula.

Secara fisik, aku lumayan cantik dan menarik, berpendidikan, dan karirku bagus. Saat ini aku sudah menjadi Marketing Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di tanah air. Apakah karena jabatan dan pendidikanku yang tinggi lantas laki-laki menjadi segan meminangku? Apa salahnya dengan pendidikan yang tinggi, aku hanya ingin terus belajar dan belajar. Dan karir yang bagus, itu adalah takdir Allah atas kerja kerasku.

Ada perasaan iri setiap menghadiri pesta pernikahan temanku, bahkan anak temanku. Soal perasaan minder, itu sudah berkurang dibanding tahun-tahun yang lalu, aku sudah terbiasa. Apalagi di kota besar telat menikah bukan hal yang aneh. Tapi aku tak ingin menyamakan diriku dengan mereka. Mereka menunda menikah karena merasa belum siap secara moril maupun materil, padahal dengan gajinya mereka bisa menghajikan satu orang setiap bulan. Ada yang malas untuk berkomitmen karena takut bercerai, takut sakit hati, tapi yang pasti mereka takut bertanggung jawab. Sedangkan aku, aku sudah beberapa kali mencoba namun seperti biasa belum jodoh.

“Neng, ngelamun aja” kejut Andi membuyarkan lamunanku. “Kenapa sih? Udah jangan dipikirin, dia memang gitu orangnya” kelakarnya kemudian.
Aku tertawa. Ah, aku tak ingin masalah ini merusak hari-hariku.
“Makan siang bareng, yuk” ajaknya kemudian.
Aku mengiyakan ajakannya. Kami makan siang di restoran Padang di food court kantorku. Andi adalah temanku semenjak aku bekerja di kantor ini, walaupun posisinya di bawahku namun aku tak pernah menganggap diriku lebih tinggi. Aku punya feeling bahwa Andi menyukaiku, itu terlihat dari sikapnya yang sangat perhatian padaku. Namun perasaanku padanya tidak begitu kuat, sampai saat ini aku belum memberikan sinyal bahwa aku juga menyukainya. Tapi entahlah, aku tak bisa memastikan apa yang akan terjadi nanti, aku tetap memberi peluang untuknya, karena ia baik dan sangat menghargaiku.

Ada satu lagi laki-laki yang aku pertimbangkan. Dia laki-laki yang ditawarkan orang tuaku. Namanya mas Farhan, lebih tua dua tahun dariku, dan dia seorang duda dengan satu anak perempuan. Istrinya meninggal ketika melahirkan. Saat ini anaknya berumur 6 tahun. Tidak ada masalah dengan anaknya, karena aku sangat menyukai anak-anak. Dan anaknya juga sepertinya menyukaiku.
“Tante, kenapa tante belum menikah juga?” tanya Dea, anak perempuan mas Farhan.

Aku tersenyum mencari jawaban yang bisa diterima anak-anak.
“Tante belum punya pacar” jawabku sekenanya.
Kemudian anak kecil itu membisikiku, “Tante mau nggak sama papaku? Papaku kan ganteng, jomblo lagi”.
Mukaku bersemu merah. Anak kecil sekarang cepat sekali dewasa.
Tapi aku belum dapat menjawab, kerena sampai sekarang papanya belum menanyakan secara langsung padaku.

Aku melangkah keluar studio bioskop sambil memagang jus stroberi yang belum habis. Sesungguhnya yang nonton tadi adalah badanku saja, sedang rohku entah kemana. Sepanjang film tadi aku hanya berpikr tantang jodoh. Aku sudah beberapa kali nonton film ini, Ayat ayat Cinta. Film ini tak pernah bosan untuk ditonton. Seandainya aku bertemu dengan lelaki seperti Fahri, dan aku adalah Aisha, tapi aku tak ingin ada Maria, kalau dia dekat-dekat dengan Fahri akan kuenyahkan dia, hahahaha.

Bruk! Gelas jus stroberi terlepas dari genggamanku. Seorang laki-laki buru-buru mengelap bajunya yang tertumpah jus stroberiku. Inilah akibatnya kalau terlalu banyak brkhayal, seorang laki-laki jadi korban keteledoranku.
“Maaf, Mas. Saya yang salah” Aku minta maaf sambil mengambil saputanganku dan ketika akan mengelap tumpahan di bajunya ia buru-buru menghindar.
“Oh, ya sudah. Ngga apa-apa , Mba. It’s ok” katanya pelan.
“Aduh, Mas. Saya benar-benar minta maaf. Saya ngga konsentrasi” Aku minta maaf sekali lagi.
Laki-laki itu menatapku lama lalu tersenyum, “Masih kepikiran film tadi ya? Filmnya memang benar-benar menyentuh ya. Jarang ada film seperti ini”.
Aku membalas senyumannya, tenyata dia tidak marah. “Aku sudah nonton 3 kali lho” ceritaku tanpa ditanya.

“Oh,ya. Saya baru kali ini nonton. Baru sempat.” jawabnya kemudian.
Aku mengangguk-angguk tidak jelas, grogi mungkin.
“Kenalin, saya Adam” dia mempelkan kedua tangannnya di depan dada.
Aku juga menempelkan tanganku didepan dada, “Nadya” balasku. Aku memang tak bersentuhan bila bersalaman dengan laki-laki yang bukan muhrimku. Selain karena ketentuan dalam Alquran, sejak dulu walaupun ketika aku belum berhijab pun aku tidak suka bersalaman laki-laki, siapa dia baru kenal saja sudah menyentuhku. Idealis memang, bahkan beberapa temanku mengataiku sok suci, tak aku tak peduli.

“Nonton sendirian ya?” tanyanya.
“Iya. Sedang ingin sendiri” jawabku.
Kemudian kami berjalan beriringan keluar bioskop. Sebelum berpisah kami bertukar nomor
telepon. Hmm, tampangnya sepintas mirip Saiful, teman Fahri. Duh, lagi-lagi Fahri, benar merasuki hatiku.

Handphone-ku berbunyi. Mas Farhan menelpon.
“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam, Mas. Ada apa?”
“Ngga, mau nanya kabar aja. Kamu lagi dimana nih?” tanya Mas Farhan.
“Saya lagi di mall, Mas” jawabku.
“Oo..”
Hening.

“Nad, besok aku mau ke Brunei ada kerjaan. Paling nggak seminggu lah. Aku minta tolong liatin Dea ya kalau kamu sempat, dia di rumah berdua dengan Mbo Surti. Dea ngga mau dititipkan ke adikku. Bisa kan, Nad? Aku perhatikan kalian lumayan dekat.”
“Insya Allah, Mas” jawabku.
“Oke gitu aja ya. Makasih banyak lho sebelumnya”.
“Iya, sama-sama”.
“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam”.
Aku menghela nafas. Aku memang dekat dengan anak kamu, tapi tidak dengan kamu… gumanku dalam hati.

Malamnya….
Aku duduk di teras belakang ditemani ibu.
“Ndhuk, gimana mas Farhan sudah ngomong sama kamu belum? tanya Ibu.
“Belum tuh. Aku juga tidak berharap terlalu banyak sama dia. Sepertinya dia belum mau menikah lagi, Bu”.
“Trus temanmu itu, si Andi, gimana hubungan kamu sama dia?” tanya ibu lagi.
“Aku sama Andi hanya berteman, Bu. Lagian usianya 5 tahun lebih muda dari aku, malas ah” jawabku.
“Nadya, ibu pingin sebelum meninggal kamu sudah menikah”
“Iya, Bu. Mau gimana lagi belum ketemu jodohnya”.

Kriiing!! Kriiing!! Telepon rumah berdering. Aku masuk ke dalam mengangkat telepon.
“Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam”
“Bisa bicara dengan Nadya?” tanya suara dari telepon.
“Saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya?” tanyaku.
“Nadya, ini Ustadz Ansori”
“Oh, Ustad. Maaf gak kenal suaranya”
“Kamu kemana aja Nadya? Sudah 3 minggu kamu tidak datang ke pengajian?” tanya Ustadz Ansori.
“Maaf Ustadz, saya akhir-akhir ini luar biasa sibuknya. Saya kecapean sehabis ngantor, jadi gak bisa datang ke pengajian” jelasku.
“Oo…Ustad bisa mengerti. Begini lho Nadya, Ustadz mau menawarkan laki-laki untuk jadi suamimu, kamu belum menikah juga kan?”
“Belum lah, Ustadz”
“Begini, laki-laki ini adalah murid pengajian Ustdz juga. Besok dia akan menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Tiba-tiba tadi sore dia menelpon Ustadz katanya calon istrinya kabur dari rumah dengan pacarnya. Dia bingung sekali, sedangkan undangan sudah disebar, gedung dan katering beserta lain-lainnya sudah beres semua. Dia tidak memaksakan calon istrinya itu untuk menikah kalau memang tidak mau. Nah Nadya, maukah kamu menikah dengannya?”
Aku tergagap menjawab pertanyaan Ustadz Ansori, “Apakah harus secepat ini? Saya bahkan tidak tau siapa orangnya?”.
“Lelaki ini adalah lelaki yang baik, Ustadz bisa menjamin itu. Insya Allah pernikahan kalian nanti bahagia dan langgeng” tambah Ustadz lagi.
Ya Allah, mungkinkah ini jodohku? Bila ini memang jodohku berilah aku kekuatan untuk menjawab ‘iya’.
“Sebentar Ustadz, saya ingin berbicara dengan Ibu saya”.
Aku berlari menemui ibu di teras. Kujelaskan semuanya. Ibu terdiam sejenak memikirkan tawaran ini. Kemudian…
“Ibu percaya Ustadz Ansori. Kamu boleh menikah dengan lelaki itu.”
Keringat dingin keluar dari badanku. Sekarang semua keputusan ada di tanganku.
Aku mengangkat gagang telepon.
“Halo Ustadz”
“Ya, gimana Nadya?”
Kutarik nafas dalam-dalam, “Bismillah, saya bersedia Ustadz”.
“Alhamdulillah, mungkin dia memang jodohmu, Nadya”.
“Gimana selanjutnya Ustadz, saya tidak punya persiapan apa-apa”.
“Kamu tidak usah khawatir, besok pagi mungkin jam 8, kami akan datang ke rumahmu. Kamu hanya perlu mempersiapkan mental kamu saja”.
Aku tidak bisa bicara, ini mendadak sekali.
“Baiklah Nadya, Ustadz sarankan kamu malam ini untuk sholat Tahajud, agar besok kamu menjadi tenang”
“Baik, Ustadz”
“Assalamu alaikum”
“Waalaikumsalam”. Klik.

Aku tidak dapat tidur. Aku mengikuti saran Ustadz Ansori untuk sholat Tahajud. Aku berdoa dengan khusyuk. Air mataku meleleh. Aku berdoa agar aku tidak salah membuat keputusan menerima tawaran Ustadz Ansori.

Keesokan paginya, iring-iringan mobil datang ke rumahku. Akad nikah dilakukan di rumahku. Aku hanya memakai gamis putih yang kubeli sewaktu ke Turki. Aku mengintip dari jendela ruang tamu. Usatdz Ansori keluar dari mobil diikuti oleh seorang laki-laki nampaknya dialah calon suamiku.

“Assalamu alaikum” sapa Ustadz dan laki-laki itu kepada ibuku yang sudah menunggu di teras depan rumah.
“Waalaikum salam”jawab ibu. “Selamat datang, maaf kami tidak ada penyambutan sewajarnya, harap maklum”.
“Tidak apa-apa Ibu, justru saya yang mengucapkan terima kasih kepada Ibu” kata lali-laki itu.
Kemudian Ibu, Ustadz, calon suamiku dan keluarga besarnya masuk ke dalam.
“Nadya…kemari nak” panggil Ibu.
Badanku gemetaran, aku tertunduk malu. Kuberanikan diri untuk melihat calon suamiku.

“Kamu?!” Aku tak percaya dengan penglihatanku.
“Lho, kamu?” Dia juga kaget.
Ustadz juga ikut kaget, “Lho, kalian sudah saling kenal yah?”.
Aku melongo.
Laki-laki itu kemudian menjelaskan kepada Ustadz, “Kami pernah betemu di bioskopUstadz, cuma sekali ketemu, setelah itu kami tidak ada kontak apa-apa, karena saya sudah meminang wanita lain. Waktu itu dia menabrak saya sehingga minumannya tumpah ke baju saya”.
Aku tesipu malu, “Adam kan?”.
“Iya saya Adam, Nadya” jawabnya sambil tersenyum.
“Wah, bagus toh kalau begitu, mari segera dimulai jangan lama-lama” timpal Ibu diikuti tawa keluarga Adam.