SELAMAT DATANG IKHWAN / AKHWAT PENGUNJUNG BLOG DAKWAH SALAFY. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT DAN ANDA MENDAPATKAN APA YANG ANDA PERLUKAN

Selasa, 02 Agustus 2011

Akibat Memakan Harta Riba

Akibat Memakan Harta Riba

Oleh: Ade Zarkasyi bin Sabit

Kaum muslimin seiman dan seaqidah
Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta'ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).

Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.

Maha Besar Allah yang telah berfirman:
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).

Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallaahu anhu berkata:
“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).
Imam Qatadah juga berkata:
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).

Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).

Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia… inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598).

Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari’at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.

“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).

Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, motor yang dikendarainya pun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do’a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.

Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.

Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta'ala menegaskan:
“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 161).

Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.


Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ.

Dalam khutbah kedua ini, setelah kita menyadari realitas yang ada, marilah kita sering-sering beristighfar kepada Allah, karena tidak ada obat penyembuh dari kesalahan dan kedurhakaan yang telah kita lakukan kecuali hanya dengan mengakui segala dosa kita lalu beristighfar memohon ampun kepada Allah dan untuk tidak mengulanginya kembali sambil beramal shalih menjalankan ketaatan unukNya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud Alaihissalam kepada kaumnya:
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52).
Pada penutup khutbah ini, marilah kita memunajatkan do’a kepada Allah sebagai bukti bahwasanya kita ini fakir di hadapan Allah Subhannahu wa Ta'ala .

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.


Ramadhan bulan rahmat

Khutbah jum’at pertama

Ramadhan bulan rahmat

ياأيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة:183)

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(Q.S. Al-Baqarah:183)

Saya ingin mengutip sebuah hadits yang cukup panjang, yaitu khutbah Rasulallah SAW menjelang bulan Ramadhan. Khutbah tersebut diriwayatkan Imam Ali R. A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalia bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam dibulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama.

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan do’a-do’amu diijabah. Bermohonlah kepada Allah. Rab-mu dengan hati yang tulus dan hari yang suci agar Alah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Kenanglah rasa lapar dan hausmu sebagaimana kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqoro dan masakin. Muliakan orang tuamu. Sayangilah yang muda. Sambunglah tali persaudaraan jaga lidahmu. Tahan pandangan dari apa yang tidak halal kamu memandangnya. Dan tahan pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.

“Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatim akan dikasihani manusia. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa diwaktu shalatmu karena saat itulah saat yang paling utama ketika Allah Azza Wajalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih . dia menjawab ketika mereka menyeru-Nyu, dan Dia mengabulkan do’a-do’a ketika mereka bermunajat kepada-Nya.

“Wahai manusia ! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban dosamu, maka ringkankanlah dengan memeperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah SWT bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang bersujud, tidak mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabbul’alamin.

“Wahai manusia ! Barang siapa di antaramu memberi makan untuk berbuka kepada kaum mukmin yang melaksanakan saum di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membeskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Para sahabat bertanya, “Kami semua tidak akan mamampu berbuat demikian.’ Lalu Rasulallah melanjutkan khutbahnya. Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setitik air.

“Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, dia akan berhasil melewati shiratalmustaqim, pada hari ketiak kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya dibulan ini, maka Allah akan meringankan pemerikasaannya di hari kiamat.

“Barang siapa yang menahan kejelakannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya. Barang siapa yang memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakan-Nya di hari berjumpa dengan-Nya, dan barang siapa yang menyambung tali silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan barang siapa yang memutuskan silaturahmi di bulan ini, Allah akan memutuskan dia dari rahmat-Nya.

“Siapa yang melakukan shalat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan shalat fardu, baginya ganjaran seperti 70 tahun shalat fardu di bulan lain.

“Barang siapa yang memperbanyak sholawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Qur’an, ganjarannya sama dengan menghatamkan Al-Qur’an di bulan-bulan yang lain.

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupnya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka memohonkanlan kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

“Lalu Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: “Ya Rasulallah, amal apa yang paling utama di bulan ini?.’Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT.” (HR. Imam Ali R. A.)

Renungan menyongsong bulan Ramadhan:

Bulan Ampunan

Kita tidak akan pernah berjumpa dengan kemudahan ampuanan kecuali di bulan Ramadhan. Semelimpah apa-pun dosa kita. Sungguh! Allah menjanjikan ampunan di bulan Ramadhan.

Kalau kta merasa berat hidup karena lumuran dosa, ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita. Kalau kita merasa jauh dari rahmat Allah, hidup gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Menjelang bulan Ramadhan kita perlu mempersiapkan diri kita sendiri, mulai dari menjaga diri dari apa pun yang Allah haramkan. Rasanya, tidak perlu kita menonton TV sampai larut malam. Lebih baik kita isi dengan membaca Al-Qur’an atau berzikir. Bagaimana mungkin kita membiarkan malam-malam kita disi dengan tidur pulas sedangkan Allah menyiapkan sepertiga malam terakhir menjadi saat yang disukai Allah.

Usahakanlah untuk mulai puasa dari apa yang tidak disukai Allah. Allah Maha Melihat perjuangan kita. Kita harus berupaya agar Allah Yang Maha Menyaksikan benar-benar melihat diri kita menjadi orang yang bersiap-siap menyambut jamuan Allah. Kita akan senang jikalau orang yang akan kita jamu datang dalam keadaan siap.

Mulai saat ini, hindari telinga kita dari sesuatu yang tidak layak kita dengar. Usahakan untuk sehemat mungkin berkata-kata yang tidak perlu. Untuk apa menambah-nambah kekotoran diri dengan kata-kata yang tidak berguna. Berkatalah benar atau diam, sehingga tiada terucap dari lisan ini kecuali kata-kata yang disukai Allah.

Disamping itu, siapkan rumah kita menjadi rumah yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Kita harus mulai melihat, tidak ada yang haram di rumah kita. Bukalah lemari kita, kalau ada yang diragukan segera keluarkan. Lihatlah dapur kita, kalau ada barang yang diragukan segera keluarkan. Jangan pernah kita dijamu Allah ketika pada diri kita melekat pakaian yang haram.

Sebelum Ramadhan tiba, bebaskan rumah kita dari hal yang sia-sia. Karena siapa lagi yang kta cari keridhaannya selain Allah. Senangkah bila rumah kita dipuji manusia tapi dibenci Allah ?

Tidak usah takut kehabisan pakaian karena Allah-lah pemberi rezeki dan tidak mungkin Allah melalaikan orang yang menafkahkan rezekinya di jalan Allah. Yakinlah, Allah tidak akan pernah lupa membalasnya. Allah tahu kapan kita membutuhkannya karena Dialah pengatur rezeki yang hakiki.

Ramadhan adalah saat dimana kita menjadi paling dermawan dalam hidup kita sebagaiman Rasulallah menafkahkan rezekinya di bulan Ramadhan. Tidak sulit bagi Allah untuk memabalas setiap hamba-hamba-Nya.

Mulai sekarang, sembari kita membersihkan rumah, bersihkan pula pikiran dan hati kita dari pikiran negatif. Jangan pernah berpikir benci kepada seseorang karena bisa mengotori hati kita. Mulai saat ini, jadilah orang yang pemaaf. Tidak ada lagi pikiran-pikiran untuk membalas dendam.

Mulai sekarang, latihlah untuk tidak celetak-celetuk asal bicara. Hujan mau besar atau kecil tidak usah dikomentari. Tidak ada lagi kata-kata yang membuat Allah tidak suka.

Alangkah bagusnya apabila kita meinta maaf kepada orang tua menjelang bulan Ramadhan. Ziarah ke makam orangtua kita bagi yang sudah meninggal. Minta ampunlah kalau kita belum sungguh-sungguh membahagiakan orangtua kita. Suami-istri juga ada baiknya saling meminta maaf. Tidak ada salahnya minta maaf kepada orang yang lebih muda dari kita, termasuk kepada adik dan kakak kita. Insya Allah dengan meminta maaf terlebih dahulu, kita akan lebih ringan memasuki Ramahdhan. Sebaliknya, kita juga harus menjadi pemaaf dengan segera memaafkan orang yang minta maaf kepada kita.

Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (harta)nya, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Q.S. Ali Imran:133-134).

Menjelang Ramadhan, dekatkanlah segala sesuatu yang akan membuat kita akrab dengan Allah. Selalu siapkan Al-Qur’an di tas, di meja kerja, dan di kamar tidur agar kita bisa dengan mudah membacanya. Begitu juga dengan buku-buku tentang keutamaan bulan Ramadhan. Sediakan juga anggaran khusus untuk sedekah dan anggaran untuk buka bagi orang lain. Satu butir kurma yang kita berikan untuk berbuka, pahalanya sama dengan satu hari puasa.

Buat juga daftar orang yang harus kita kunjungi, seperti kakek, nenek, bibi, dan keluarga kita yang lainnya. Terutama keluarga kita yang sedang berada di rumah sakit. Tiap detik harus jadi kebaikan. Tiada hari tanpa silaturahmi. Termasuk silaturahmi kepada ulama. Kunjungi juga orang-orang dhuafa yang sengsara dan dililit utang. Mudah-mudahan, Ramadhan kita menjadi penebar rahmat kepada orang-orang yang duafa.

Khutbah Ke-II

الحمد لله الذى بعث فى الأميين رسولا منهم يتلوا عليهم آياتِهِ ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحمكة . أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله . اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى أله ومن اتبع هداه إلى يوم القيامة .

أما بعد . فأوصيكم عباد الله ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون . فقد قال الله تعالى فى القرآن العظيم : إن الله وملائكته يصلون على النبى يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما , اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه كما صليت وسلمت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد برحمتك يا أرحم الراحمين .

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات , ربنا هب لنا من لدنك رحمة وهئ لنا من أمرنا رشدا . ربنا آتنا ما وعدتنا على رسلك ولا تخزنا يوم القيامة إنك لا تخلف الميعاد , اللهم اصلح جميع ولاة المسلمين وانصرنا على الكافرين . ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين , اللهم إنا نسألك حسنَ الخاتمة ونعوذبك من سوءِ الخاتمة , يا رينا إذا أعطيتنا النجاح فاعطنا معه التواضع وإذا أعطيتنا الفشل فاعطنا معه الأمل , ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار .

عباد الله إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وايتاء ذى القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر ولذكر الله أكبر أقيم الصلاة .

KHUTBAH JUM’AT

TAHUN BARU

الخطبة الأولى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله مسخر الشمس والقمر. وجعلهما اية متفرّقة بين الليل و النهار حتى دار الوقت من ساعة إلي ساعة اخر. وكملت الشهور في السنة اثنتي عشر. أحمده سبحانه وتعالى حمد عبد معترف له بالتقصير, بذلّ وانكسار. وأشكره على نعمه الغزار. وأشهد أن لااله إلاّ الله وحده لاشريك له شهادة بصحّة الإقرار. أرجو بها النجاة في يوم تذهل فيه العقول وتشخص الأبصار, وأشهد أنّ سيدنا محمدا عبده ورسوله المصطفى المختار. اللهمّ صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى اله و أصحابه البررة الأخيار.

أما بعد: فياايها الناس اتقوا الله تعالى فى الإعلان و الإسرار. فإنّ تقواه هي الوقاية من غضب الجبّار. واعدّوا عملا صالحا فى العام المستقبل للنجاة من عذاب النار.

Saudaraku kaum muslimin yang berbahagia

Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah Ta’ala, baik di dalam keadaan sepi maupun di dalam keadaan ramai. Jangan hanya di dalam keadaan ramai saja kita bertaqwa, sebab takwa seperti ini berarti tidak murni karena Allah. Begitu juga janganlah hanya bertaqwa di dalam keadaan sepi saja, sebab dalam keadaan ramai justru kita dituntut untuk bertaqwa. Maka sesungguhnya bertaqwa kepada Allah itu merupakan penjagaan dan benteng dari kemurkaan Allah Ta’ala.

Pada dua malam yang lalu atau tepatnya pada malam rabu, telah terjadi peristiwa besar dengan telah bergantinya tahun miladiyah atau tahun masehi. Dari televisi dapat disaksikan, dari koran bisa dibaca dan dari radio dapat didengarkan, betapa banyak orang sangat menunggu peristiwa tersebut. Mereka memperingati malam pergantian tahun atau sering disebut malam tahun baru dengan berbagai peringatan.

Sebagaimana dalam peringatan peristiwa besar yang lain, hal tersebut adalah untuk mengingat, mengingatkan kita terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu. Tentang apa yang telah diperbuat oleh negara dan bangsa kita atau yang telah diperbuat oleh seseorang atau bahkan oleh diri kita sendiri. Kalau kita pisahkan menurut suku katanya, akan kita dapatkan dalam kata memperingati yaitu kata “ingat”. Lalu apa yang perlu kita ingat dalam pergantian tahun?

Hadirin sidang jum’at yang dimuliakan Allah

Pertama yang perlu kita ingat adalah pentingnya waktu. Kita harus menyadari, bahwa waktu terus berjalan, bahwa manusia terus bertambah umurnya yang berarti mengurangi sisa usianya. Dalam penggunaan waktu, manusia hendaknya betul-betul memeperhatikan dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Bahkan Allah telah bersumpah dalam Al-Qur’an mengingatkan manusia akan pentingnya waktu, agar mereka tidak dalam kerugian besar.

والعصر إنّ الإنسان لفي خسر إلا الذين امنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحقّ

وتواصوا بالصبر

“Demi masa, sesunguhnya manusia betul-betul dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Umur yang baik haruslah dijalani dengan penuh keimanan serta diisi dengan takwa, berupa amal soleh, kebenaran dan kesabaran, jika umur atau perjalan hidup tidak diisi dengan takwa, hidup akan menjadi sia-sia. Mengomentari ayat Al-Ashr diatas pakar tafsir Mustofa Al-Maroghi menjelaskan; waktu adalah makhluk ciptaan Allah yang bisa saja mengandung peristiwa-peristiwa baik dan buruk. Jangan salahkan waktu, karena ulah manusia itu sendirilah yang menyebabkan dia tergilas dan terperdaya oleh waktu.

Sebegitu pentingnya waktu sampai-sampai orang bijak mengatakan bahwa waktu itu lebih berharga dari pada emas. Bisa kita bayangkan seandainya kalau kita hidup tanpa waktu, tanpa jam, tanpa hari, tanpa bulan atau tanpa tahun. Tentu, hari ini kita tidak akan pernah tahu berapa usia kita sekarang, atau sudah berapa lama kita hidup di dunia.

Orang bijak juga mengibaratkan waktu itu seperti pedang yang kalau kita tidak bisa menggunakannya, maka kita akan terpotong olehnya. Menurut hemat kami, tidaklah berlebihan sekiranya mereka mengatakan semacam demikian. Karena waktu sudah dijadikan manusia sebagai patokan dalam kehidupannya. Dalam menjalankan ibadah tentu orang lain akan lebih tahu kalau kita katakan waktu sholat akan mulai pada jam sekian, atau waktu permulaan puasa akan jatuh pada hari H. atau dalam mengadakan pertemuan akan mudah difahami jikalau kita mengatakan pertemuan akan diadakan pada hari H dan jam J.

Kedua yang perlu diingat adalah amal perbuatan kita. Apa yang telah kita perbuat haruslah kita fikirkan, baik tentang kebaikan ataupun keburukan dan kekurangan kita. Dan tidah cukup berhenti difikirkan saja, tapi haruslah ada perbaikan dari keburukan kita dan peningkatan dari kebaikan kita. Atau biasa dibahasakan sebagai introspeksi atau evaluasi. Di negara-negara barat, misalnya di Amerika Serikat, peringatan tahun baru selau disertai dengan evaluasi dan perencanaan yang biasa mereka sebut sebagai New Year Resolotion.

Tentu tidak ada salahnya, apabila pada permulaan tahun ini kita sudah mengevaluasi amalan kita dan mempunyai perencanaan yang lebih baik tentunya, untuk satu tahun yang akan datang. Hal ini tak lain dan tak bukan hanyalah agar kita lebih baik dan agar menjadi orang yang selalu bertakwa kepada Allah. Sehingga dengan demikian, semakin tua umur kita akan semakin baik dan sempurna amal kita. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW;

خير الناس من طال عمره و حسن عمله (رواه الترمذى)

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurmya dan bagus amalanya.

Janganlah kita merasa puas dulu dengan kebaikan yang telah kita lakukan, puas dengan sholat kita, puas dengan zakat kita, puas dengan puasa kita, puas dengan sedekah kita, puas dengan jasa kita. Yang mana hal tersebut akan menjadikan kita mudah terlena, mudah takkabur dan mudah tinggi hati.

Hadirin sidang jum’at yang berbahagia

Pergantian tahun adalah sunnatullah, sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Karenanya, ia tidak perlu diperlakukan secara istimewa. Hukum memperingati malam tahun baru pada dasarnya netral atau mubah. Sesuatu yang mubah boleh dilakukan asal tidak dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam. Di tahun yang baru ini sebaiknya kita isi dengan lembaran-lembaran hidup baru yang dibentangkan Allah dihadapan kita. Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai lembaran-lembaran baru kita nodai dengan tinta pebuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan selera manusia yang berakhlak mulia. Sebaliknya di saat-saat permulaan tahun baru kita jadikan momen untuk meningkatkan ketakwaan lepada Allah, lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kalau kita mahir dalam menegemen bisnis, maka akan semakin baik pula kalau kita mahir dalam menegemen waktu. Tentunya pengaturan waktu untuk beramal sholeh.

Akhirnya marilah kita panjatkan do’a lepada Allah semoga amal perbuatan kita yang telah lalu berupa kebajikan diterima oleh-Nya sebagai amal sholeh yang dapat kita petik kelak di akherat, dan semua kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat selama ini diampuni-Nya. Dan semoga menjadikan hidup kita sebagai tambahan kebaikan bagi kita, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari segala kejelekan. Begitu pula semoga langkah kita selanjutnya di dalam tahun baru ini mendapat petunjuk dan taufik-Nya. Amin ya Robbal Alamin.

فمن كان يرجو لقاء ربّه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربّه أحدا. بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. و نفعنى وإيّاكم بما فيه من الايات و الذكر الحكيم. فاستغفروه إنّه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Ke-II

الحمد لله الذى بعث فى الأميين رسولا منهم يتلوا عليهم آياتِهِ ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحمكة . أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله . اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى أله ومن اتبع هداه إلى يوم القيامة .

أما بعد . فأوصيكم عباد الله ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون . فقد قال الله تعالى فى القرآن العظيم : إن الله وملائكته يصلون على النبى يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما , اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه كما صليت وسلمت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد برحمتك يا أرحم الراحمين .

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات , ربنا هب لنا من لدنك رحمة وهئ لنا من أمرنا رشدا . ربنا آتنا ما وعدتنا على رسلك ولا تخزنا يوم القيامة إنك لا تخلف الميعاد , اللهم اصلح جميع ولاة المسلمين وانصرنا على الكافرين . ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين , اللهم إنا نسألك حسنَ الخاتمة ونعوذبك من سوءِ الخاتمة , يا ربّنا إذا أعطيتنا النجاح فاعطنا معه التواضع وإذا أعطيتنا الفشل فاعطنا معه الأمل .اللهمّ إنا نسألك سلامة فى الدين والدنيا والآخرة وعافية فى الجسد وزيادة فى العلم وبركة فى الرزق وتوبة قبل الموت ورحمة عند الموت ومغفرة بعد الموت, اللهمّ هوّن علينا فى سكرات الموت والنجاة من النار والعفوى عند الحساب. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على طاعتك وعلى عبادتك, ربنا ظلمنا أنفسنا وان لم تغفر لنا وترحمنا لنكوننا من الخاسرين, اللهم حبّب إلينا الإيمان وزيّنه فى قلوبنا وكرّه إلينا الكفر والفسوق والعصيان واجعلنا من الراشدين, اللهم اغفرلنا ولوالدينا ولإخواننا الذين سبقون بالإيمان ولا تجعل فى قلوبنا غلاّ للذين أمنوا إنّك انت السميع العليم, ربنااغفر لنا ذنوبنا وكفّر عنّا سيئاتنا وتوفنا مع الأبرار, اللهم أعزّ الاسلام والمسلين وأصلح ولاة المسلمين والّف بين قلوبهم وأصلح ذات بينهم وانصرهم على عدوك وعدوهم ووفقهم للعمل بما فيه صلاح الإسلام والمسلمين, اللهمّ إنّا نسألك رضاك والجنة ونعوذبك من سختك والنار, اللهمّ اجعل جميع أعمالنا وعبادتنا خالصة لوجهك الكريم, اللهم اهدناالصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولاالضالّين, ربنا اتبا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله إنّ الله يأمر بالعدل والاحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكّرون فاذكرواالله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم وادعوه يستجب لكم ولذكر الله أكبر أقم الصلاة.


Taubat nasuha

Taubat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم.

أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل و سلم على سيدنا محمد وعلى اله و أصحابه أجمعين. يا أيها الحاضرون اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا و أنتم مسلمون. فقد قال الله تعالى في كتاب الكريم:

ٌٌأعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. يا أيها الذين أمنو توبوا إلى الله توبة نصوحا. عسى ربكم أن يكفر عنكم سيئاتكم ويدخلكم جنة تجري من تحتها أنهر يوم لا يخزي الله النبي والذين أمنو معه, نورهم يسعى بين أيديهم بأيمانهم يقولون ربنا اتمم لنا نورنا واغفرلنا, إنك على كل شٍٍئ قدير (التحريم:8)

Kaum muslimin jama’ah jum’ah rahimakumullah

Bertakwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, karena manusia makhluk yang lemah yang membutuhkan Allah dalam kehidupannya. Manusia juga tidak luput dari kesalahan dan dosa. Maka pada kesempatam kali ini khatib ingin membahasa tentang taubatan nasuha.

Taubat secar terminology berarti kembali dari sifat-sifat dari perbuatan yang tercela menuju sifat-sifat dan perbuatan yang terpuji. Adapun taubatan nasuha, adalah taubat yang dilakukan dmanusia dari suatu dosa kemudian dia tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut.

Kaum muslimin rahimakumullah!

Marilah kita merenung sejenak, berapa banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan kepada Allah SWT dan manusia, kesalahan dan dosa yang kita sengaja ataupun yang tidak kita sengaja, dosa besar ataupun dosa kecil. Nampaknya kesesatan, khurafat-khurafat, dekadensi moral, kezalimaman, praktek riba,perzinaan, penipuan, ghibah (menggunjing orang lain),adu domba, hasut, iri hati.dengki, kefasikan, perbuatan durjana, kedustaan dan khianat telah menyebar kemana-mana, dan mungkin dari perbuatan tersebut diatas ada yang bersemayam dihati kita ataupun kita pernah melakukannya, ketahuilah kaum muslimin bahwa hal-hal yang seperti ini akan menjauhkan diri kita kepada Allah. Semakin jauh kita dengan Allah, maka Allah akan lebih jauh dengan kita.

Oleh sebab itu, sudah merupakan kebutuhan kita untuk melakukan instrokpeksi secara serius, terutama ditengah-tengah kondisi zaman yang rusak seperti saat ini, tidak ada jalan untuk selamat bagi kita dari kejahatan dan kerusakan zaman ini kecuali khauf min Allah (takut kepada Allah) dan selalu merasa diawasi olehnya, maka setiap kita harus bertaubat secara sungguh-sungguh. Jika tidak, kita akan hidup dalam keadaan rusak dan hina. Allah SWT menyuruh kita untuk bertaubat kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 31:

وتوبوا الى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون (النور: 31)

“Dan bertaubatlah kalian semua pada Allah hai orang-orang beriman supaya kalian beruntung”

Kaum muslimin rahimakumullah!

Taubat sebenarnya merupakan penjagaan bagi seorang muslim agar tidak hanyut dalam kondisi rusak dan terhina. Taubat juga dapat diibaratkan seperti pembersih untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati.

Allah memberitahukan bahwa bani Adam (manusia) itu berpotensi untuk berbuat dosa. Tetapi Allah tidak mencela mereka semua melainkan memuji mereka yang mau bertaubat. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:

كل بني أدم خطاء, و خير الخطائين التوابون.

“Setiap bani Adam itu pasti pernah berrbuat salah dan sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat”

Hadits tersebut merupakan dalil yang jelas bahwa manusia itu banyak berbuat dosa, tetapi meskipun demikian sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas bagi manusia yang mau memperbanyak taubat. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabada:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوها قبل أن توزن

“Hitung-hitunglah kesalahan dirimu sebelum kalian dihitung dan timbanglah kesalahanmu sebelum ditiimbang nanti di akhirat”

Kaum muslimin rahimakumullah!

Ciri-ciri taubat nasuha ada tiga;

1. Menyesal atas dosa yang dilakukan

2. Minta ampun kepada Allah

3. Tidak akan mengulang perbuatannya

Menyesal setelah melumuri diri kita dengan dosa dan kenistaan, adanya penyesalan setelah berbicara kotor, menyesal ketika mata melihat kemaksiatan, penyesalan ketika menyakiti hati orang lain. Karena orang yang tidak menyesal tidak termasuk taubat.

Apalagi bangga dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan nya. Menunjukan dia belum bertaubat yang sesungguhnya.

Minta ampun kepada Allah biasa dilakukan dengan istigfar, Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an

وأن استغفروا ربكم ثم توبوا إليه

“Dan beristigfarlah (memohon ampunlah) kepada Tuhan kalian, kemudian bertaubatlah kalian kepadanya” (QS; Hud ayat 3)

Minta ampun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dari hati yang paling dalam. Inilah salah satu tanda orang yang sungguh-sungguh dalam taubatnya. Begitupu deraian air mata dan menggigilnya perasaan, merupakan ekspresi dari penyesalan yang dalam. Perlu kita ketahui bahwasanya Rasulullah saw meminta ampun kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari

والله إني لاستغفر الله و اتوب اليه في اليوم أكثر من سبعين مرة

(رواه: البخاري وأحمد و ابن ماجه)

“Demi Allah sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”

Gigih untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya bukan sekedar tidak berbuat dosa bahkan untuk berpikir kearah sana sajapun tidak boleh.

Kaum Muslimin rahimakumullah!

Dengan bertaubat kita akan mendapatkan buah-buah taubat ataupun hasil dari taubat kita. Kita akan mendapatkan penghapusan dosa, memperbarui iman, mengganti keburukan dengan kebaikan mengalahkan musuh yang abadi yaitu syetan, mengalahkan bisikan nafsu yang menyuruh kepada keburukan dan kenistaan ketundukan hati kepada Allah, dan mendapatkan cintaNya. Dan kegembiraan Allah terhadap orang yang bertaubat.

Maka khatib mengajak kepada kaum muslimin sebelum nafas kita lepas dari tenggorokan, marilah kita introspeksi dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah, Insya Allah, Allah akan menerima taubat kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafas di tenggorokan

بارك الله لي ولكم في القران العظيم و نفعني و إياكم بما فيه من الأيات وذكر الحكيم أقول قول هذا واستغفر الله العظيم لي ولكم و بجميع المسلمين و تقبل الله مني و منكم تلاوته ٌٌإنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله كثيرا كما أمر, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن سيدنا و نبينا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم و بارك على سيدنا محمد وعلى أله و أصحابه أجمعين أما بعد فيا عباد الله اتقوا الله ماستطعتم وسارعوا الي مغفره رب العالمين يا ايها الذين أمنو توبوا الى الله توبتا نصوحا. واعلموا ايها المؤمنون إن الله صلى على نبيه قديما و بدأ بنفسه تعليما وقال الله تعال إن الله و ملاْئكته يصلون على النبي يا ايها الذين أمنو صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل و سلم على سيدنا محمد وعلى اله و أصحابه أجمعين. اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات والمؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سمميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات. ربنا ظلمنا أنفسنا ظلومات كثيرة لا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفرلنا مغفرة من عندك وارحمنا إنك أنت الغفور الرحيم. ربنا لا تأخذنا إن نسينا أو أخطأنا. ربنا ولا تحمل علينا اصرا كما حملته علي الّّذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين. اللهم اصلح لنا ديننا الذي هو عصمة امرنا و اصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا و اصلح لنا أخرتنا التي اليها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا من كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر. اللهم اعز الإسلام و المسلمين واهلك الكفرة و المبتدعة و المشركين أعدائك اعداء الدين اللهم شتت شملهم و مزق جمعهم و زلزل أقدامهم و الق في قلوبهم الرعب انك على كل شئ قدير. إن الله يأمركم بالعدل والاحسان و ايتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمع يزدكم ولذكرالله أكبر. اقم الصلاة!!


Jumat, 29 Juli 2011

Sedekah Menyembuhkan Berbagai Penyakit

Kisah-Kisah Keajaiban Sedekah dalam Menyembuhkan Berbagai Penyakit


sedekah

Sedekah bisa menjadi obat bagi penyakit Anda! Rasulullah n bersabda :

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ وَ نَفْسِهِ وَ وَلَدِهِ وَ جَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kisah-kisah nyata yang akan membuat semua orang beriman terpana. Betapa sedekah memiliki keajaiban tiada tara. Namun, mengapa masih banyak orang yang tidak gemar melakukannya?
Baca dulu kisahnya, dan semoga akan segera tergugah jiwa Anda. Bagi saudaraku yang masih terbaring sakit, walaupun Anda mungkin masih menjalani pengobatan medis, tak mengapa, tetaplah bersedekah. Dengan keikhlasan niat dan kemantapan iman, sedekah yang Anda keluarkan itu insya’ Allah akan mempercepat kesembuhan Anda. Simak baik-baik kumpulan kisah nyata di bawah ini!



Bisul di Wajahnya Sirna

Disebutkan di dalam kitab Shahihut Targhib wat Tarhib 964 M, dari Imam Baihaqi v, bahwa ia berkata, “Ada kisah Syaikh Hakim Abi ‘Abdillah v, bahwa ia memiliki bisul di wajah dan telah diobati dengan berbagai macam obat, tapi tak kunjung sembuh juga. Sudah hampir satu tahun lamanya bisul tersebut menghinggapi wajahnya. Kemudian ia meminta kepada Ustadz Imam Abu ‘Utsman Ash-Shobuni untuk mendoakannya di majelis beliau pada hari Jumat. Beliau pun mendoakannya dan diamini oleh banyak orang.

Pada hari Jumat berikutnya ada seorang wanita yang menyampaikan selembar surat yang mengatakan bahwa sesampainya di rumah, ia kemudian bersungguh-sungguh dalam mendoakan Hakim Abu ‘Abdillah pada malam harinya. Lalu dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah n yang seakan-akan bersabda kepadanya, “Katakan kepada Abu ‘Abdillah agar melapangkan air bagi kaum muslimin.” Kemudian aku membawa surat tersebut kepada Hakim. Lalu Hakim memerintahkan agar membuat galian di depan pintu rumahnya. Setelah galian tersebut selesai dikerjakan, beliau memerintahkan agar memenuhi galian tersebut dengan air dan kerikil. Orang-orang pun mulai mengambil air tersebut untuk minum. Tidak sampai satu pekan, tanda-tanda kesembuhan telah nampak pada Abu ‘Abdillah. Maka wajahnya telah kembali tampan seperti sedia kala. Setelah peristiwa itu beliau masih hidup selama beberapa tahun.[1]

Galilah Sumur, dan Sakitmu Akan Sembuh

Di dalam Siyar A’lamin Nubala’ 8/407 disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Abdullah bin Mubarak v tentang luka bernanah (bisul) yang keluar dari lututnya sejak tujuh tahun yang lalu. Ia telah mengobatinya dengan berbagai macam obat dan banyak bertanya kepada para dokter, tetapi belum sembuh juga. Maka beliau pun menjawab, “Pulanglah, lalu galilah sumur di tempat orang-orang yang membutuhkan air. Sesungguhnya aku berharap akan keluar mata air di sana, dan darahmu akan berhenti.” Lelaki itu pun melaksanakan perintah Ibnul Mubarok, maka ia pun sembuh.[2]

Penyakit Kanker Sembuh Dengan Sedekah

Disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang mengidap penyakit kanker. Ia sudah berkeliling dunia untuk mencari obat, namun ia belum mendapatkannya. Maka, ia pun bersedekah kepada ibu anak yatim, sehingga Allah memberikan kesembuhan kepadanya.[3]

Sembuh Karena Berinfak kepada Anak Yatim

Ada seorang wanita yang tinggal di Arab Saudi bercerita, “Aku menderita penyakit kanker beberapa tahun, dan aku yakin maut telah mendekat. Aku menginfakkan penghasilanku dari menjadi tukang bordir kepada anak-anak yatim. Setiap harta yang aku infakkan kepada mereka, maka Allah membalasku dengan berlipat ganda, dan akhirnya Dia memberikan kesembuhan dari penyakitku, karena disebabkan infakku kepada anak-anak yatim.”[4]

Wanita Mandul Itu Bisa Hamil

Ada seorang wanita yang mendapat cobaan dengan kemandulan, ia tak dikaruniai anak. Para dokter telah berputus asa dari kemungkinan ia bisa hamil, dan bahwa penyakit itu memang tidak ada obatnya. Maka, Allah Ta’ala memberikan taufik kepadanya agar ia bersedekah kepada seorang wanita fakir. Sesudah ia bersedekah kepada wanita itu, ia meminta kepadanya agar mendoakan dirinya dikaruniai anak shalih. Setelah berlalu tiga bulan, wanita itu pun mengandung dua anak kembar!![5]

Penglihatannya Kembali Normal Seperti Sedia Kala

Seorang anak kecil bermain bersama saudaranya, tangannya membawa pisau. Tiba-tiba saja, ia memukulkan pisau tersebut ke mata saudarinya. Dengan cepat saudarinya tersebut dilarikan ke rumah sakit. Kemudian ia dipindahkan ke Riyadh. Setelah diperiksa dan dirongent, tim dokter memutuskan bahwa harapan kornea matanya bisa kembali normal amat tipis, sehingga sangat mustahil ia bisa melihat kembali seperti sedia kala.

Suatu hari sang ibu yang menemani anak perempuannya (yang sedang sakit) tersebut teringat tentang keutamaan sedekah. Maka, ia meminta kepada suaminya agar membawakan batangan emas yang dimilikinya, di mana ia tidak memiliki kekayaan selain barang tersebut. Ia ingin mensedekahkannya, meski sebenarnya secara materi ia juga kekurangan. Ia berdoa kepada Allah seraya berucap, “Wahai Robbku, Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki harta selain barang itu, maka jadikanlah sedekahku ini sebagai sarana kesembuhan anak putriku ini.”

Keesokan harinya dokter datang untuk kembali memeriksa anak tersebut, ternyata perkataan dokter tetap seperti kemarin, anaknya tidak ada harapan sembuh. Beberapa hari kemudian, datang dokter lain dan memeriksanya, ia berpikir dan memperhatikan dengan cermat. Tiba-tiba saja, dokter itu menginstruksikan untuk mengadakan operasi. Ternyata operasi itu berhasil, semata-mata karena karunia Allah. Al-hamdulillah, akhirnya sang anak perempuan itu bisa kembali ke rumahnya dengan selamat, tanpa ada sedikit pun bekas luka di wajahnya, dan penglihatannya kembali normal seperti sedia kala.[6]

Putrinya Sembuh Lantaran Sedekah

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj –-semoga Allah memberinya taufik–, bahwa seseorang telah bercerita kepada Syaikh perihal kisah ajaib yang dialaminya, ia mengatakan, “Aku memiliki anak perempuan yang masih kecil, yang terkena penyakit di tenggorokannya. Aku telah pergi bersamanya ke beberapa rumah sakit dan telah membeberkan jenis penyakit yang dialami anakku kepada banyak dokter, namun semuanya tidak bermanfaat. Sakitnya menjadi semakin bandel. Aku hampir saja ikut sakit lantaran memikirkan sakit anakku, yang menjadikan semua anggota keluarga tak bisa tidur. Kami telah menempuh langkah-langkah untuk meringankan sakitnya, hingga akhirnya kami merasa putus asa dari semua itu, kecuali dari rahmat Allah Ta’ala.

Sampai suatu ketika datanglah secercah harapan dan terbukalah pintu solusi. Ada seorang yang shalih menghubungiku dan mengingatkanku akan hadits Nabi n :

دَوُّوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Aku berkata kepadanya, “Sungguh, aku telah banyak bersedekah.” Ia kembali berkata, “Bersedekahlah saat ini dengan niat agar putrimu mendapatkan kesembuhan.” Akhirnya, aku pun bersedekah dengan dilandasi kerendahan hati kepada salah seorang fakir, namun segala sesuatunya tak ada perubahan. Aku menginformasikan hal ini kepada orang shalih itu, dan ia berkata, “Anda termasuk orang yang memiliki banyak harta. Hendaklah sedekahmu seukuran dengan hartamu.”

Aku pun pergi untuk kedua kalinya, dan mobilku kupenuhi dengan beras, ayam dan barang yang baik-baik dalam jumlah yang besar, lalu kubagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka pun bergembira dengan sedekahku. Dan subhanallah, tiba-tiba putriku menjadi sembuh total, alhamdulillah.

Aku yakin bahwa sedekah merupakan faktor penyebab kesembuhan yang terbesar. Sekarang, berkat anugerah Allah, putriku selama tiga tahun ini tidak pernah terkena penyakit apa pun. Sejak itulah aku memperbanyak sedekahku, khususnya pada waktu-waktu yang baik. Dan, aku setiap hari merasakan kenikmatan, keberkahan dan kesehatan dalam hal harta dan keluargaku. Aku pun menasihati setiap orang yang sakit agar bersedekah dengan harta yang paling berharga yang ia miliki. Hendaknya ia ulangi sedekahnya itu, niscaya Allah Ta’ala pasti akan menyembuhkannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”[7]

Emas yang Disedekahkan Membawa Kesembuhan Anaknya

Seorang pemuda masuk ke rumah sakit karena penyakit parah yang dideritanya -–semoga Allah memberikan keselamatan dan kesehatan kepada kita dan menyembuhkan kaum muslimin yang sedang sakit-–. Setelah diperiksa, tim dokter menetapkan bahwa harapannya untuk sembuh sangat tipis. Dokter berkata kepada sang ibu yang menemaninya, “Penuhilah keinginan-keinginannya, sepertinya ia tidak mempunyai harapan sembuh lagi, namun Allohlah yang paling mengetahui.”

Sang ibu sangat terpukul dengan informasi tersebut. Ia teringat dengan belahan hatinya, ia khawatir jangan-jangan harus berpisah dengannya selama-lamanya. Maka, ia pun menjual semua emas yang dimilikinya, kemudian mensedekahkan seluruh uang hasil penjualannya. Beberapa hari kemudian, dokter memberitahukan kepada sang ibu bahwa anaknya ada harapan untuk sembuh, dan keadaannya membaik sedikit demi sedikit. Akhirnya beberapa hari kemudian, keluarlah pemuda itu dari rumah sakit dalam keadaan sehat wal afiat. Semuanya memuji kepada Allah l atas kesembuhan dan kasih sayang-Nya.[8]

Terkena ‘Ain, Sembuh Dengan Sedekah

Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj mengatakan bahwa ada seseorang bercerita kepadanya, orang itu berkata, “Saudaraku pergi ke suatu tempat, lalu berhenti di salah satu jalan. Tatkala sampai di tempat itu, ia tidak mengeluhkan apa pun, namun tiba-tiba ia jatuh pingsan, seperti terkena tembakan senapan di kepalanya. Kami memprediksi bahwa ia terkena penyakit ‘ain atau mengidap penyakit tumor atau terjadi pembekuan pada pembuluh darah di otak.

Kami segera pergi ke beberapa rumah sakit dan klinik pengobatan, lalu ia diperiksa dan dirontgen. Hasil pemeriksaan mengatakan bahwa kepalanya sehat, namun ia terus mengeluhkan rasa sakit di saat akan tidur, sehingga ia sering memilih untuk tidak tidur. Namun, di saat yang lain ia merasa sehat.

Apabila sakitnya kambuh, ia tak mampu bernafas dan berbicara. Syaikh Sulaiman pun berkata, “Apakah Anda memiliki harta yang bisa kami sedekahkan untukmu, semoga Allah menyembuhkanmu!” Ia menjawab, “Ya. Saya memiliki harta kira-kira jumlahnya 7.000 riyal.” Maka, sang Syaikh segera menghubungi seorang yang shalih yang mengetahui keadaan orang-orang miskin, untuk membagi-bagikan sedekah itu kepada mereka.
Orang itu berkata, “Aku bersumpah demi Allah yang Maha Agung, bahwa saudaraku itu sembuh dari sakitnya pada hari yang sama sebelum harta itu sampai ke tangan orang-orang miskin!! Dan, aku benar-benar tahu bahwa sedekah memang memiliki pengaruh yang besar dalam pengobatan berbagai penyakit.”[9]

Penyakit Demam Tak Berdaya Melawan Sedekah

Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj mengatakan bahwa kisah ini diceritakan oleh pelakunya sendiri, orang itu berkata kepada Syaikh, “Anakku mengeluhkan penyakit demam dan panas, serta ia tak mau makan. Aku pun pergi bersamanya ke beberapa klinik pengobatan, namun panasnya tak kunjung turun dan keadaannya semakin memburuk.
Aku masuk ke dalam rumah disertai perasaan gelisah, tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Isteriku berkata kepadaku, “Hendaklah kita bersedekah untuknya.” Aku pun segera menghubungi via telepon seseorang yang memiliki jalinan hubungan dengan orang-orang miskin, aku berkata kepadanya, “Aku berharap Anda mau shalat ‘Ashar di masjid, dan mau mengambil dari tempatku 20 kantong beras dan 20 boks ayam, lalu hendaklah Anda membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.”

Aku bersumpah demi Allah, tidak sampai lima menit sesudah aku menutup gagang telepon, tiba-tiba anakku telah berlari-lari, bermain-main, berlompatan di atas sofa, dan makan-makan hingga kenyang, serta ia telah sembuh total berkat karunia Allah dan selanjutnya berkat keutamaan sedekah. Dan, aku berpesan kepada orang banyak agar memberikan perhatian kepada sedekah, saat terkena berbagai penyakit.”[10]

Sedekah Mengobati Penyakit Jiwa

Ada seorang wanita yang menderita penyakit jiwa yang parah. Salah seorang kerabatnya bangkit dan segera bersedekah dengan meniatkan kesembuhan untuknya kepada seorang yang shalih namun fakir yang menanggung beban hidup dua keluarga, dan ia meminta agar orang shalih itu mendoakan saudaranya. Maka, Allah pun menyelamatkan wanita itu dari bala’, dan sedekah itu menjadi penyebab kesembuhannya.

Saudara yang bersedekah itu mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari keluargaku yang tahu tentang sedekahku. Sesungguhnya aku ingin menjadikan sedekah itu ikhlas untuk menggapai keridhaan Allah Ta’ala.” Segala puji bagi Allah, yang telah menyembuhkan kerabatnya dari penyakit jiwa yang dideritanya.[11]

Sakitnya Hilang Tanpa Bekas

Ada seorang wanita yang mengalami gagal ginjal -–kita memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesembuhan bagi kaum muslimin yang sakit–. Ia sudah berulang kali memeriksakan dan mengobatkan sakit yang dideritanya tersebut. Akhirnya, ia mencari-cari sekiranya ada orang yang mau merelakan ginjalnya untuk disumbangkan kepada dirinya, ia siap membayar dengan uang sejumlah 20.000 riyal.

Tersebarlah berita tersebut di kalangan orang-orang ketika itu, hingga ada salah seorang wanita yang mendengar kabar tersebut yang akhirnya langsung menuju ke rumah sakit untuk mendonorkan ginjalnya. Ia menyetujui seluruh ketentuan-ketentuan yang diajukan kepadanya sebelum menjalani operasi. Di hari yang telah ditentukan, perempuan yang sakit tersebut menemui sang pendonor, ternyata ia sedang menangis. Karena heran melihat keadaannya, ia pun bertanya, “Apakah Anda merasa terpaksa dan keberatan dengan operasi yang akan Anda jalani?” Wanita pendonor itu berkata, “Sebenarnya tidak ada yang mendorongku untuk mendonorkan ginjalku selain kemiskinan yang menimpa diriku dan karena aku sangat membutuhkan uang.”

Wanita pendonor itu kembali menangis tersedu-sedu, maka wanita yang sedang sakit itu menenangkannya dengan mengatakan, “Silahkan engkau ambil uang ini, dan aku tidak menghendaki sesuatu pun darimu…”. Beberapa hari kemudian perempuan yang sakit tersebut kembali ke rumah sakit. Ketika tim dokter memeriksa penyakitnya, begitu terkejutnya mereka, karena tidak mendapati sedikit pun bekas sakit pada dirinya. Al-hamdulillah, ternyata Allah l telah menyembuhkannya.[12]

Sudah Masuk Ruang ICU, Mendadak Sembuh

Ada seorang wanita masuk ruang ICU (unit gawat darurat) karena penyakit parah yang dideritanya. Beberapa muhsinin (orang-orang yang suka berbuat kebaikan) mengetahui keadaannya, maka mereka pun menyembelih seekor unta dan meniatkan pahalanya untuk si wanita tersebut. Setelah itu, mereka mensedekahkan daging unta tersebut kepada para keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhannya dengan mengharap pahala dari Allah l. Beberapa hari kemudian, akhirnya Allah memberikan kesembuhan kepada wanita tersebut. Hanya bagi Allohlah segala pujian dan karunia.[13]

Sedekah Menolak Gangguan Sihir

Dikisahkan, ada beberapa wanita yang berbincang-bincang tentang keajaiban sedekah. Dan, belum selesai para wanita itu membicarakan tentang keutamaan sedekah, tiba-tiba salah seorang wanita yang ada di antara mereka –-yang sedang terkena sihir– melepas kalungnya yang mahal harganya. Kalung itu kemudian ia berikan kepada salah seorang temannya agar dijual dan uangnya diberikan kepada para keluarga miskin.

Ketika temannya tersebut pergi ke tempat penjual emas dan sang penjual ingin menimbangnya, maka sang penjual mengeluarkan mata batu yang terletak di tengah kalung tersebut. Sang penjual begitu terheran-heran dan kebingungan dengan apa yang dilihatnya. Karena ia menyaksikan ada buhul sihir di dalam mata batu kalung itu. Sang penjual kemudian mengeluarkannya, dan alhamdulillah, akhirnya sembuhlah perempuan pemilik kalung tersebut dari penyakit yang selama ini dideritanya.[14]

Suami Bersedekah Emas, Isterinya Sembuh Seketika

Seorang dokter menelepon suami seorang wanita yang sedang terbaring sakit di sebuah rumah sakit. Dokter itu memberitahukan bahwa istrinya sedang mengalami masa kritis, dan dari tinjaun medis harapan untuk sembuh sangatlah tipis. Sang suami sangat terpukul dengan berita tersebut. Maka ia segera bergegas mengeluarkan sedekah berupa emas milik istrinya. Setelah itu, ia pergi ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, sang dokter memberitahukan kepadanya bahwa beberapa saat yang lalu (yakni saat bersamaan waktu sang suami bersedekah), nampak tanda-tanda membaik dan kesembuhan pada diri sang istri. Kemudian ia dipindahkan dari ruang ICU ke kamar perawatan biasa. Beberapa hari kemudian, ia telah keluar dari rumah sakit tersebut. Segala puji bagi Allah, Pemilik Keutamaan dan Kebaikan.

Gigi Gerahamnya Sembuh Total

Seorang juru dakwah wanita yang terkenal bercerita, “Aku berada di Al-Haram sejak beberapa tahun yang lalu. Suatu ketika gigi gerahamku sakit, yang aku agak terlambat dalam mengobatinya. Aku bahagia dengan keberadaanku di Al-Haram dan aku ingin menyibukkan diri dengan Al-Quran. Akan tetapi, jikalau penyakit itu terus terjadi, maka aku akan pergi ke dokter dan aku akan meluangkan waktuku.

Terlintas dalam benakku sebuah pikiran untuk menolak penyakit ini dengan sedekah. Akhirnya, aku pun bersedekah kepada seorang anak perempuan di Al-Haram. Demi Allah, hanya dalam waktu singkat, penyakitku menjadi sembuh. Dan sejak itu hingga waktu ini, aku tidak lagi membutuhkan dokter untuk mengobati penyakitku ini, karena penyakit itu tidak pernah lagi menyerangku.[15]

Diprediksi Mati, Allah Menyelamatkannya Dengan Sekedah

Syaikh ‘Abdul Hadi Badlah, Imam Masjid Jami’ur Ridhwan di Halab Syiria, pernah bercerita, “Di awal pernikahanku, Allah telah menganugerahkan kepadaku anak yang pertama. Kami sangat bergembira dengan anugerah ini. Akan tetapi, Allah l berkehendak menimpakan penyakit yang keras kepada anakku. Pengobatan seakan tak berdaya untuk menyembuhkannya, keadaan sang anak semakin memburuk, dan keadaan kami pun menjadi buruk karena sangat bersedih memikirkan keadaan buah hati kami dan cahaya mata kami. Kalian tentu tahu, apakah artinya anak bagi kedua orang tuanya, terutama ia adalah anak yang pertama!!

Perasaan buruk itu menyeruak di dalam hati, karena kami merasa tak berdaya memberikan pengobatan bagi penderitaan anak kami!!
Sehatnya kita memang merupakan perintah Allah dan ketentuan-Nya, namun kita memang harus mengambil langkah-langkah pengobatan dan tidak meninggalkan kesempatan atau sarana apa pun untuk mengobatinya.

Seorang yang baik menunjukkan kepada kami adanya seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal, maka aku pun pergi bersama anakku kepadanya. Anakku mengeluhkam demam yang sangat tinggi, dan dokter itu berkata kepada kami, “Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, maka ia akan meninggal esok hari!!”
Aku kembali bersama sang anak dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang hatiku, hingga kelopak mataku tak mampu terpejam tidur. Aku pun mengerjakan shalat, lalu pergi dengan wajah muram durja meninggalkan isteriku yang menangis sedih di dekat kepala anakku.

Aku terus berjalan di jalanan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk anakku!! Tiba-tiba aku teringat dengan sedekah, dan ingat dengan hadits Rasulullah n, tatkala beliau bersabda, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” Namun, siapa yang akan aku temui di waktu malam seperti ini. Aku bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan ia katakan kepadaku jika aku melakukan hal itu?

Tatkala aku berada dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba ada seekor kucing lapar yang mengeong di kegelapan malam. Aku menjadi ingat dengan sabda Rasulullah n tatkala ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?” Beliau n menjawab, “Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Aku pun segera masuk ke rumahku, mengambil sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.

Aku menutup pintu belakang rumahku, dan suara pintu itu bercampur dengan suara istriku yang bertanya, “Apakah engkau telah kembali kepadaku dengan cepat?” Aku pun bergegas menuju ke arahnya. Dan, aku mendapatkan wajah isteriku telah berubah, dari permukaan wajahnya telah menyiratkan kegembiraan!

Ia berkata, “Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih dalam keadaan duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan!!”
Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba ada seekor burung hitam yang besar dari langit yang terbang hendak menyambar anak kita, untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat? Tiba-tiba muncul kepadaku seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya pun saling bertempur. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu, karena si burung badannya gemuk. Namun akhirnya, burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi.

Syaikh ‘Abdul Hadi berkata, “Aku tersenyum dan merasa gembira dengan kebaikan ini. Melihat aku tersenyum, isteriku menatap ke arahku dengan terheran-heran.”
Aku berkata kepadanya, “Semoga semuanya menjadi baik.”

Kami bergegas mendekati anak kami. Kami tak tahu siapa yang sampai terlebih dulu, tatkala penyakit demam itu sirna dan sang anak mulai membuka matanya. Dan, pada pagi hari berikutnya, sang anak telah bermain-main bersama anak-anak yang lain di desa ini, alhamdulillah.

Sesudah Syaikh menyebutkan kisah menakjubkan ini, anak tadi -–yang telah menjadi pemuda berumur 17 tahun, serta telah sempurna menghafalkan Al-Quran dan menekuni ilmu syar’i–, ia menyampaikan nasihat yang mendalam kepada kaum muslimin di masjid orang tuanya, Masjid Ar-Ridhwan di Halb, di salah satu malam dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah.[16]

Sumber : Buku “Berobat Dengan Sedekah”, karya Muhammad Albani, Penerbit Insan Kamil, Solo, Cet. X, Juni 2009